Akademisi Oxford University Inggris Kevin W. Fogg menjadi narasumber Seminar Internasional yang digagas oleh Universitas Alkhairaat (Unisa), di aula Ibnu Shina Fakultas Kedokteran. Pria yang fasih berbahasa Indonesia itu berduet dengan mantan Rektor Unisa, Dr. H. Lukman S. Thahir.

Keduanya sepakat menyebutkan bahwa Organisasi Masyarakat (Ormas), termasuk Alkhairaat, kini menghadapi Era Simulacra dan Post Truth.

“Kedua tantangan ini mengancam eksistensi semua ormas, termasuk Alkhairaat. Jika kita tidak bisa menghadapinya bisa gulung tikar dan akan menjadi kenangan dan bahan cerita dimasa akan datang,” kata Dr. Lukman S Tahir, saat mengisi Seminar Internasional dengan tema Organisasi Massa Islam, masa lalu, kini dan akan datang di Universitas Alkhairaat (Unisa) Kamis (17/10).

Menurutnya, Alkhairaat sebagai Ormas terbesar di Indonesia Timur memiliki basis di dunia pendidikan harus bisa menghadapi kedua tantangan tersebut. Era Simulacra kata mantan Rektor Unisa itu adalah era kemunafikan, hidup dengan pencitraan. Pencitraan dihadirkan dan diolah sedemikian rupa, padahal sejatinya itu hanyalah rekayasa.

“Banyak yang tidak asli sekarang ini, banyak persoalan-persoalan sosial, kebangsaan dan politik itu sesungguhnya sesuatu yang tidak nyata dibuat menjadi nyata, dan menariknya, media begitu cepat merespon, apa yang ada di TV itu banyak yang tidak rill, inilah yang diproduksi secara besar-besaran seakan-akan yang tidak ril itu dianggap menjadi ril,” ujarnya.

Ia mencontohkan, perempuan membeli sampo bukan karena samponya, tapi karena orang yang mempersentasikan, jadi orang membeli sesuatu itu bukan karena kebutuhan, tapi kerena pencitraan. Beda dengan dulu, seperti orang beli mobil karena kebutuhan, tapi sekarang orang beli mobil agar bisa dianggap setara dengan komunitas lainnya.

“Jadi semuanya karena kepalsuan. Orang ke Mall belanja bukan karena kebutuhan, melainkan hanya karena ingin masuk kelas sosial tinggi. Jadi kehilangan makna,” ungkapnya.

Sementara di era Post Truth katanya, adalah era dimana fakta tidak lagi mampu membentuk opini publik, sebaliknya emosional dan keyakinan pribadi kepada seseorang lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik.

“Fakta-fakta tidak lagi mampu membentuk opini publik, karena kebohongan yang diproduksi secara berulang-ulang itu akan menghasilkan kebenaran, ini yang sangat berbahaya dan kini juga telah terjadi,” jelasnya

Untuk menghadapi kedua kondisi tersebut, Abnaul Khairat harus kembali ke khittah Alkhairaat. Alkhairaat adalah rumah bangsa, dimana Guru Tua dijadikan rool model, Uswatun Hasanah, bagaimana guru tua bersentuhan dengan non muslim, bagaimana guru tua bersentuhan dengan budaya yang sangat multikulutural, penguasaan ilmu dan ahlak.

“Perharhatikan rekam jejak seseorang, jangan mudah mengamini apa yang disampaikan,” pesannya.

Ia juga menitipkan pesan, agar Universitas Alkhairaat Palu bisa mendesain sebuah kurikulum berbasis multikultural, agar bisa melahirkan generasi yang bisa memahami dan menghormati adanya perbedaan di masyarakat, sebagaimana yang telah dicontohkan pendiri Alkhairaat Guru Tua. Hidup berdampingan dengan berbagai macam budaya, bahkan Guru tua datang di lembah Palu, Sulawesi Tengah tidak menggeser apalagi mengganti budaya yang sudah ada.

Sementara itu, Rektor Unisa Palu, Dr.Umar Alatas saat membuka seminar Internasional, berharap para peserta seminar bisa mendapatkan pencerahan tentang organisasi kemasyarakatan yang ada dari dua narasumber, masing-masing Mantan Rektor Unisa dan sekaligus Akademisi IAIN Palu Dr Lukman S Tahir dan Akademisi Kevin W Fogg, Ph.D peneliti dari Inggris.

“Semoga dengan kehadiran peserta bisa memetik ilmu dan pelajaran dari pemateri, sehingga bisa mengenal lebih jauh bagaimana organisasi Islam di Indonesia, terutama Alkhairaat,” tutup Rektor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here