Rektor Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu, Dr. Hamdan Rampadio, SH., MH, meminta kepada setiap alumni Unisa Palu untuk memperhatikan kondisi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Alkhairaat di kampung-kampung.

Mengingat kondisi sejumlah MI Alkhairaat saat ini lesu, bahkan tidak sedikit diantaranya tutup disebabkan karena tidak memiliki guru. “Memiliki siswa, namun tidak memiliki guru, karena gurunya tidak digaji,” ungkap Hamdan, di wisuda sarjana strata satu ke-XXVIII dan wisuda profesi dokter ke V. Kamis (31/1/2019).

MI Alkhairaat kata Hamdan, tidak bisa terlepas dari Perguruan Alkhairaat sebagai lembaga pendidikan. Untuk itu, setiap lulusan Unisa Palu sebagai Abnaul Khairaat diharapkan bisa memberikan perhatian kemakmuran MI Alkhairaat.

Bagi yang belum mendapatkan pekerkaan tetap, diharapkan dapat berkontribusi berupa tenaga sebagai guru di MI Alkhairaat, sambil tetap berusaha mencari pekerjaan tetap. Serta bagi yang sudah mendapatkan pekerjaan, dapat berkontribusi dengan cara menyisihkan penghasilannya untuk gaji guru-guru MI Alkhairaat.

Terlebih bagi yang memiliki usaha, sangat diharapkan bisa berkontribusi menyisihkan laba usahanya untuk kemakmuran MI Alkhairaat. “Karena melalui keberadaan MI Alkahiraat, kehidupan beragama di masyarakat akan tetap ada. Karena pengenalan pendidikan agama diawali dari MI Alkhairaat ini,”ungkap Hamdan.

Hamdan juga mengingatkan kepada 248 alumni yang diwisuda, jika Ujian Skripsi bukan akhir dari segalanya, sebab ujian yang sesungguhnya baru saja mereka masuki saat kembali ke masyarakat.

Sebab saat ujian skripsi jadi di kampus, mereka hanya menghadapi penguji sekitar lima sampai tujuh orang dosen, namun jika sudah di masyarakat, mereka akan menghadapi penguji puluhan hingga ratusan, karena seluruh masyarakat di sekitarnya adalah pengujinya.

“Bagi masyarakat, seorang sarjana berarti orang yang serba bisa, masyarakat tidak ingin tau program studi saudara apa, yang mereka tau adalah anda seorang sarjana, sehingga jangan perna berhenti belajar dan dan berhenti kembangkan keilmuan, karena disitulah masyarakat akan menilai sejauh mana kemampuan saudara,”pesan Hamdan.

Sementara itu, Gubernur Sulteng, Longki Djanggola, diwakili Staf Ahli Ardiansyah Lamasituju, mengungkapkan, jika wisuda jangan dilihat sebagai seremoni biasa, melainkan sebagai momentum mengangkat derajat satu digit dari sebelumnya, sebagaimana janji Allah SWT dalam Surah al-Mujadalah/58 ayat 11 menjelaskan keutamaan orang-orang beriman dan berilmu.

Untuk itu kata Ardiansyah, sebagai lulusan Alkairaat yang telah berilmu dan memiliki derajat satu dikit lebih tinggi dari pada masyarakat yang tidak sarjana, haruslah menjadi agen perubahan. Berkontribusi menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat, diantaranya dengan cara menciptakan lapangan kerja baru. “Jadikan sesuatu yang biasa-biasa jadi luar biasa, itu baru menjadi agen perubahan,”tantang Ardiansyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here