Pelaksana tugas (Plt) Ketua Utama Alkhairaat, Habib Alwi bin Saggaf Aljufri, menyatakan dukungan dan mempersilahkan para petugas vaksin imunisasi Measles Rubella (MR) masuk di 489 unit madrasah Alkhairaat diberbagai tingkatan yang ada di Indonesia, untuk malakukan vaksinasi pada setiap pelajar yang ada di madsarah tersebut.

Habib Alwi menilai, manfaat vaksinasi MR bagi anak-anak dinilai jauh lebih besar, hal ini sekaitan dengan kesehatan generasi umat dan bangsa. “Silahkan masuk, tidak apa-apa, ini kebaikan anak-anak kita juga,”ungkap Habib Alwi, usai menerima dua orang konsultan Imunisasi dari UNICEF, dr Mohammad Al Habsyi dan dr Aty Uleng Hamid, di dampingi Rektor Universitas Alkhairaat (Unisa) Dr H Hamdan Rampadio, dan Sekjen PB Alkhairaat Ridwan Yalidjama di ruang kerja rektorat. (Kamis (16/8/2018).

Mengingat hingga hari ini, status vaksin MR yang belum terverifikasi halal dari MUI Pusat membuat masyarakat ragu, bahkan tidak sedikit orang tua peserta didik meminta untuk dilakukan penundan vaksi pada anaknya hingga ada keputusan dari MUI terkait kehalalan vaksin tersebut.

Sebagai informasi, vaksin MR ini merupakan hasil produksi dari Serum Institute of India (SII) dan telah mendapat rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), dan telah digunakan di sejumlah negara Islam di timur tengah, diantaranya Arab Saudi dan Iran yang terkenal ketelitiannya dalam hal halal dan haram.

Dalam penjelasan dr Mohammad Al Habsyi, dihadapan Habib Alwi dan Rektor Universitas Alkhairaat (Unisa) Dr H Hamdan Rampadio serta Sekjen PB Alkhairaat Ridwan Yalidjama, memastikan vaksin tersebut tidak mengandung unsur babi, dan ini adalah hak setiap anak untuk mendapatan vaksin tersebut.

Jika dihentikan akan berbahaya bagi anak, sebab virus Rubella ini mudah menular lewat udara, bahkan juga berpotensi menular pada orang tua. “Ini sangat penting diberikan kepada anak-anak, kasihan jika tidak diberikan, ini hak mereka dari negara untuk kesehatannya,”jelasnya.

Terkait pasca vaksin, biasanya anak mengalami demam, dianjurkan kepada orang tua tidak terlalu khawatir, sebab itu hanyalah kejadian ikutan pasca imunisasi dan dipastikan akan hilang dengan sendirinya.

Ia melanjutkan, informasi media sosial yang beredar terkait dampak negatif dari imunisasi vaksin MR pada anak adalah hoax. “Itu adalah hoax, jangan dipercaya, tidak ada yang begitu sampai bengkak-bengkak tangan hingga masuk rumah sakit, percayalah pemerintah tidak mungkin mau menyengsarakan masyarakatnya,”tambahnya.

Rektor Hamdan juga menambahkan, bahwa masyarakat harus lebih selekstif dalam menerima pesan dari media sosial, tidak mudah percaya bila menerima pesan atau berita tanpa jelas siapa nara sumber dari berita tersebut. Jika tidak berkompeten jangan dipercaya.

“Selektif namun bukan berarti tidak percaya apa lagi sudah tidak mau menggunakan teknologi, kita juga harus bisa mengikuti perkembangan zaman, namun saya harapkan bijaklah dalam menggunakan teknologi dan mengukuti perkembangan zaman itu,”saran Hamdan.

Sebelumnya, Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat M Cholil Nafis, mengungkapkan, bahwa Komisi Fatwa MUI akan memberikan rekomendasi dan dukungan terhadap vaksin MR dalam rangka untuk mencegah terjadinya penyakit dengan cara preventif berupa imunisasi. Namun, tetap harus menggunakan bahan yang halal.

Pertanggal 14 Agustus 2018 kemarin, Lembaga Pengkajian Pangan dan Obat (LPOM) MUI sudah menerima surat permintaan pengujian dari Kemenkes terkait pelaksanaan sertifikasi halal vaksin measles rubella (MR).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here