Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu, mengulangi sejarah yang perna terjadi di zaman Alhabib Idrus Salim Al Jufri (Guru Tua), dengan memberikan kepercayaan kepada non muslim, bukan hanya sebagai tenaga pengajar melainkan juga posisis jabatan.

Rektor Unisa Palu Dr Hamdan Rampadio, Sabtu (4/8/2018) melantik dr Wijoyo Halim, M.Kes, Sp.S sebagai Wakil Dekan 1 Fakultas Kedokteran Unisa Palu. Posisi tersebut cukup vital, mengingat ini adalah posisi yang membidani akademik dan bertangungjawab pada kualitas mahasiswa.

“Unisa Palu, tidak melihat latar belakang agama, suku, warna kulit, namun Unisa Palu hanya melihat kompetensi orang, ini yang diajarkan oleh guru tua, dan sekaligus ini perna dicontohkan langsung oleh guru tua,”kata Hamdan Rampadio.

Dimana sebelumnya, Guru Tua mempercayakan seorang guru mata pelajaran Matematika yang beragama Kristen mengajarkan murid-muridnya di Madrasah. Pada hal seperti diketahui, madrasah Alkhairaat identik dengan agama Islam, terlebih Guru Tua adalah keturunan Habaib (Keturanan Nabi Muhammad SAW).

Namun bagi Guru Tua, di dalam dunia pendidikan tidak boleh mengkotak-kotakan anak bangsa dengan melihat latar belakang agama, suku, warna kulit, sebab itu bertentangan dengan semangat kemerdekaan, termasuk kemerdekaan dalam menuntut ilmu.

Istimewanya lagi, guru non Muslim tersebut bukan hanya sekedar menjadi guru biasa di madrasah itu, justru menjadi guru yang luar biasa, sebab saat Guru Tua pulang dari daerah keliling melihat perkembangan madrsah-madrasahnya di daerah, yang pertama ditanyakan guru tua adalah guru non muslim itu. Tidak hanya sampai disitu, bahkan tidak hanya sekali Guru Tua mengajak makan berdua dengan guru non Muslim tersebut sekaligus tukar pikiran terkait perlembangan madrasah.

Inilah yang menjadi inspirasi Hamdan, jika Unisa Palu didirikan oleh Guru Tua bukan hanya diperuntukan bagi orang yang baragama Islam, melainkan untuk putra-putri bangsa Indonesia secara keseluruhan, tanpa melihat latar belakang agama, suku, dan warna kulit, termasuk di dalamnya dosen, dan pengelolah/pejabat. Siapapun yang punya kompetensi dan punya komitmen membesarkan institusi Unisa, akan diterima di Unisa Palu.

“dr Wijoyo Halim, hanya kebetulan saja beliau beragama Budha, tapi jika kita berbicara kompetensi dan komitmen, saya kira mungkin banyak diantara kita malu dengan beliau, meskipun beliau beda agama dengan pendiri kampus ini, namun komitmen dan kepeduliannya luar biasa, dan itu terbukti banyak mengantarkan anak-anak kita berprestasi,”jelas Hamdan.

Namun perlu diketahui kata Hamdan, ada segudang pekerjaan yang telah menunggu Wijoyo Halim untuk segera diselesaikan, diantaranya rasio desen dan mahasiswa, terutama dosen yang memiliki pangkat akademik. Mengingat hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah yang mesti segera dituntaskan Fakultas Kedokteran Unisa Palu. Berikutnya, realisasi MoU dengan Tohoku University Jepang, terkait pertukaran pelajar.

“Saya yakin dan percaya, dr Wijoyo Halim, mampu menyelesaikan semua itu, ini amanah dari Fakultas dan Universitas, tidak semua orang yang bisa diberikan amanah seperti ini, hanya orang tertentu yang bisa, dan itu sekarang diberikan kepada dr Wijoyo, dengan harapan hal itu tidak disia-siakan,”pesan Hamdan.

Di waktu yang sama, Hamdan juga melantik dua wakil dekan dengan posisi yang sama, kedua pejabat ini dilantik untuk kedua kalinya dengan posisi yang sama. Masing-masing Wakil dekan 2 Fakultas Kedokteran Unisa Palu dr Abdul Hamid Noorsaman, dan Wakil Dekan 3 Fakultas Kedokteran Unisa Palu dr Hj Lutfiah, M.KM, dengan masing-masing masa jabatan 2018-2022.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here